2015/05/13

Catatan Mengenai Cara Root Dan Install Custom Recovery di OS Android

Catatan Mengenai Cara Root Dan Install Custom Recovery di OS Android - Custom Recovery: CWMR, TWRP, PhilZCustom recovery dan hak akses superuser (root) mempunyai peranan sangat penting dalam dunia ponsel android. Karena dibandingkan dengan stock recovery, custom recovery mempunyai lebih banyak kelebihan. Jika stock recovery hanya mampu mem-backup user-data, custom recovery mampu memback-up semua hal hingga system-nya sendiri dan mapu melakukan restore saat ada sesuatu yang salah dengan system yang saat ini dipakai. Sedangkan ketika anda mempunyai hak sebagai root, anda bisa lebih leluasa mengendalikan ponsel android anda termasuk mengkustomasi system-nya.

Salah satu custom recovery yang paling populer dan paling awal muncul adalah Clockworkmod Recovery atau biasa disebut CWM Recovery. Yang dalam perkembangannya diadopsi dan ditambahi fitur-fitur khusus sehingga muncul custom recovery baru seperti Carliv Touch Recovery, PhilZ Recovery. Ada juga yang mengembangkan custom recovery melalui pendekatan yang berbeda dengan yang digunakan oleh CWM Recovery, yakni TWRP (Tean Win Recovery Project).

Ada banyak metode untuk meng-injeksi-kan custom recovery dan/atau mendapatkan hak akses root. Namun, secara umum metode yang digunakan ada dua yakni:

  1. Flashing langsung dari ponsel dengan aplikasi flasher semacam Rhasr, Mobile Uncle (chipset mediatek) atau menggunakan tool yang disediakan khusus oleh pengembang Custom Recovery itu sendiri seperti yang dilakukan TWRP.
  2. Flashing melalui Komputer/Laptop, baik flashing custom recovery menggunakan ADB dan Fasboot Tool ketika ponsel dalam mode fastboot atau menggunakan bantuan Software pihak ketiga semisal MTK Droid Tools dan Smartphone Flash Tool pada ponsel dengan chipset mediatek, yang (dalam prosesnya) bisa dilakukan saat ponsel menyala, namun proses sebenarnya dimualai saat ponsel melakukan reboot.

Jika menggunakan cara pertama, maka ponsel HARUS sudah dalam keadaan root terlebih dahulu. Dimana proses rooting bisa dilakukan dengan menggunakan mobile rooting tool yang sangat banyak beredar semisal: Framaroot, Kingroot, Shuame root (dulu Genius Root). Bahkan ada tool rooting dari legenda jailbreak ipnone, Geohott yaitu Towelroot.

Atau jika tidak bisa melakukan rooting langsung dari ponsel untuk merk tertentu, rooting mesti dilakukan dengan bantuan PC menggunakan software pihak ketiga seperti Odin untuk brand Samsung (Galaxy) dan Flashtool untuk brand Sony (Xperia) atau Cydia Impactor dan lain lain.

Pada cara kedua, proses flashing tidak mengharuskan ponsel dalam keadaan sudah root jika flashing custom recovery dilakukan saat ponsel masuk dalam fastboot mode atau bootloader mode (menggunakan ADB Fastboot tool).

Tetapi jika menggunakan aplikasi pihak ketiga, ada kalanya harus melakukan rooting terlebih dahulu (biasanya dengan menanamkan binary SU kedalam system saja) agar bisa mengakses hak akses superuser (root) saat ponsel menyala. Tentu saja dengan opsi USB debugging menyala.

Tetapi lain halya dengan aplikasi ODIN Downlader yang tidak memerlukan ponsel dalam keadaan root, karena ODIN Downloader melakukan flashing Custom Recovery dalam keadaan Download Mode. Juga software Flashtool yang juga melakukan flashing saat ponsel dalam keadaan fastboot atau bootloader mode.
Root di Android, terminologi superuser di linux/unix.
Metode kedua ini biasanya juga digunakan sebagai langkah awal untuk melakukan rooting pada ponsel jika tidak bisa di root baik itu menggunakan mobile root tool maupun tool rooting PC. Triknya adalah dengan menginstal binary SU kedalam system saat berada dfalam mode recovery.

Kenapa harus menggunakan custom recovery saat flashing file zip-update dalam proses rooting? Bukankah stock recovery OS android (versi kitkat keatas) mempunyai fitur untuk flashing zip update dari sdcard? jawabannya tidak bisa karena saat menggunakan stock recovery, system (default.prop) masih di-boot dalam kondisi secure (ro.secure=1) begitu juga adbd berjalan dalam mode secure (ro.adb.secure=1). Sedangkan custom recovery mem-boot system dalam keadaan unsecure (ro.secure=0) dan adbd juga unsecure (ro.adb.secure=0) sehingga bisa memasukkan file apapun ke dalam system.

Jadi, tidak ada patokan khusus atau urutan yang pakem apakah harus melakukan rooting terlebih dahulu baru memasang custom recovery atau sebaliknya, memasang custom recovery dan melakukan root belakangan. Yang psti adalah tidak afdol jika anda melakukan rooting tetapi tidak meng-install custom recovery karena resiko kerusakan saat ponsel android dalam kondisi root sangat tinggi. Atau sebaliknya mempunyai custom recovery tetapi kondisi ponsel masih "tanpa cela".

Saya tidak mengatakan mubazir loh ya.. karena ada banyak sekali keuntungan ketika anda mempunyai custom recovery saja maupun hanya melakukan rooting saja. tentu, dengan mengesampingkan resiko-resiko yang harus anda tanggung. Misalnya: anda akan kehilangan jaminan perbaikan gratis atau garansi jika melakukan root atau dukungan OTA update firmware dari pabrik saat anda meng-install custom recovery.

Jadi? Its ap tu yu gais... Semua hal memang berjalan dengan kekurangan dan kelebihan secara bersamaan.

Tinggalkan komentar dan ikutan mejeng di Recent Comments.
- Komentar dimoderasi untuk mencegah komentar spam dan double post. Jadi komentar tidak akan langsung muncul.
- Daftarkan nama di profil blogger agar tidak tampil Unknown.
- Jangan pernah menuliskan no. HP maupun e-mail, komentar akan dihapus/tidak di publikasikan demi keamanan anda sendiri.
- Lihat halaman kontak untuk berkomunikasi secara intens dengan penulis artikel.
Kamus EmoticonSembunyikan