2013/02/06

Kisah Peretas Situs SBY Si WildAn(o)nymous

Kisah Peretas Situs SBY Si WildAn(o)nymous -

Penulis: Gus Adhim
Namanya Wildan, remaja 21 tahun, bujangan, tamatan SMK jurusan bangunan. Namanya tiba-tiba cetar membahana karena ditangkap polisi dengan tuduhan mengusili laman resmi presiden republik ini.

Menurut kabar yang beredar, motif si Wildan ini 'cuma iseng'. Entah 'iseng' betulan atau 'iseng' pesanan, yang tahu hanya Wildan dan Tuhan. Bila motif 'cuma iseng' ini terbukti, tentu aksi Wildan patut dikritisi hati-hati.

situs-sby-kena-hack.jpg

Saya jadi teringat Mercury Rising, suspense thriller karya Harold Becker yang memadukan drama aksi bertema teknologi komputasi. Simon, 9 tahun, sang protagonista, diceritakan berhasil memecahkan kode rahasia keamanan komputer pemerintahan lewat ulah kebetulan -- jika tak bisa disebut keisengan.

Simon, bocah lugu survivor autis itu, menerobos celah kelemahan dengan cara sederhana: mengisi majalah puzzle kata-angka kesukaanya.

Sukses Simon 'terbantu' oleh blunder programmer komputer pencipta kode kriptografi 'Mercury' yang terlalu percaya diri. "Tidak bakal ada piranti komputer di dunia yang bisa membuka kode rahasia karya mereka," katanya.

Sehingga saking pede-nya, mereka pun iseng menyelipkan kode angka rahasia pada majalah anak-anak, dan membuat sayembara lewat telepon undian sebagai bahan uji keamanan.

Tak dinyana, kode angka itu terpecahkan saat Simon 'menelpon'. Rahasia negara pun terbuka akibat ulah iseng programmer keminter dan aksi iseng anak difabel penyuka puzzle!

Ada sedikit kesamaan antara Simon dan Wildan, yakni sifat pendiam dan tidak diperhitungkan. Keduanya mewakili cerita masyarakat biasa. Sinopsis Mercury Rising kian relevan mempertemukan kesamaan dengan kasus yang dialami Wildan, meski baru sebatas pertanyaan plus dugaan.

Di antara pertanyaan awam yang patut kita lontarkan, "Apakah penjaga keamanan situs presiden yang khilaf? Iseng dan teledor membiarkan backdoor melompong? Ataukah kreatifitas iseng Wildan lebih beruntung sehingga mampu mengenali system error yang bolong?".

Isengnya Wildan layak disesali -- apalagi jika niatnya terbukti sekadar mencari sensasi. 'Iseng' kealpaan sysadmin situs presiden juga wajib diprihatini. Orang awam akan bertanya sederhana, "Bagaimana mungkin situs orang nomor satu di negeri ini, yang saya percaya diamankan sungguhan, ndilalah disusupi bocah? Ataukah kemungkinan lainnya, pintu keamanan komputasi dilonggarkan terbuka akibat lemahnya dukungan sumber daya sehingga para penjaga kekurangan etos kerja?"

Sekali lagi pembaca mungkin sama herannya dengan saya, "apakah ini kejadian sama kebetulannya dengan Mercury Rising, dimana keisengan Wildan berjodoh dengan kealpaan penjaga istana maya, dan kemudian melahirkan kecelakaan?". Akan banyak kemungkinan jawaban. Tapi untuk validasi kebenaran informasinya, penjaga dan pengelola situs itu yang lebih tahu.

Saya tergoda berasumsi, apakah Wildan ini kelewat bersemangat menafsiri manifesto hacker yang kesohor itu secara keliru? Ditambah gelora jiwa muda plus kreatifitas otodidaknya, ia mungkin terobsesi menerobos celah kelemahan sebuah situs yang relatif paling aman. Asumsinya, situs pemimpin negara pasti dijaga tentara maya yang berkemampuan ekstra.

Apakah mungkin juga Wildan ingin berniat tulus -- atau justru sebaliknya ingin dikultus -- sebagai anonymous? Hanya kejujuran Wildan dan Tuhan yang paham.

Namun sampai sejauh itu, keisengan plus aksi usil Wildan cukup berhasil. Sayang memang, drama obsesinya menabrak pintu pidana, walau saya yakin Wildan tentu tahu resiko itu. Jujur, untuk kenekatan nyali aksi ini, saya patut angkat salut dan ingin mengucapkan 'WoWildan!'.

Pembela Maya & Menpora

Wildan kini menghadapi tuntutan Rp 12 miliar atau bui 12 tahun. Di antara pro dan kontra berita di media, Wildan sekarang sedang berjuang memperoleh hak-haknya hukumnya.

Pembela Wildan keukeuh memperjuangkan, 'Wildan harus dibebaskan!'. Mereka beralasan, tindakan Wildan justru berkepahlawanan karena mampu mendeteksi celah keamanan situs resmi presiden ini. Di antara aksi pembela Wildan yang mengaku Anonymous, beramai-ramai unjuk protes penangkapan dengan cara mengusili situs-situs pemerintah berdomain go.id.

Indahkah aksi Anonymous ini? Belum pasti. Protes pembelaan ulah Wildan dengan justifikasi 'tahu celah keamanan situs presiden RI', menurut hemat saya, hanya akan menimbulkan preseden 'pembenaran kesalahan' yang berkelanjutan.

Misalnya dengan asumsi serupa, maka koruptor dan pengedar narkoba harusnya dipuji dan dibela juga karena berhasil menunjukkan ada celah kelemahan di perangkat hukum negara kita. Begitukah?

Jika asumsinya demikian, maka silakan saja segerakan sebar pengumuman, "Mari sedulur nubie wannabe scriptkiddie, dukunglah koruptor dan pengedar narkoba saat ini dengan cara defacement semua situs resmi berdomain dot.id!" Mau begitu?

Saya sangat mengapresiasi seni bermain teknologi komputasi ala Wildan ini. Ulahnya masih lebih layak bernilai berita daripada infotainment artis muda ibukota yang tertangkap pesta narkoba.

Setidaknya 'keterampilan' Wildan bisa dibina untuk kebermanfaatan bangsa dan negaranya. Namun saya juga harus menghormati langkah polisi yang berusaha menegakkan peraturan, mengajarkan Wildan tentang tanggung jawab hukum, selain membikin jera pengusil ababil lainnya.

Menurut saya, pada aksi pengusilan presidensby.info ini, jelas Wildan kurang memahami protokol keamanan komputasi dan undang-undang republik ini. DNS redirection yang dilakukan Wildan -- atas nama iseng sekalipun -- tidak perlu ditiru.

Afdolnya hemat saya, kalau dia memang menemukenali bug serta berniat baik, dia bisa segera laporkan ke admin via surel atau tiket. Setidaknya, begitulah cara kerja seorang idealis hactivist yang dipahami penulis.

Sekarang, kewenangan yang bisa kita lakukan -- jika memang ingin mendukung Wildan -- adalah mengawal proses penyidikan hingga pengadilan. Syukur jika ada relawan yang bergerak elegan dan jantan mau membayar denda pemembebasan Wildan sebagaimana gerakan 'koin Prita'.

Saya rasa itu jauh lebih mulia daripada lebay mengobarkan perang maya –- alih-alih memberikan dukungan pembelaan. Sekali lagi, mari hormati proses hukum ini. Kita ikhtiari saja semoga Wildan mendapatkan hukuman yang betul-betul berasas perikeadilan dan perikemanusiaan.

Semoga saja keadilan masih tegak di bumi republik ini. Jangan sampai praktik hukum cuma alim ke kaum kaya, tapi zalim ke kasta papa. Kepada penegak hukum saya berharap, pastikan keadilan bisa diperoleh Wildan.

Kita semua tentu tidak mau asumsi yang mengatakan "pengedar narkoba dilepaskan, koruptor divonis ringan, Wildan diancam 12 tahunan," mendapat pembenaran. Dus, kita juga tidak ingin mendengar gosip lagi, bahwa kasus Wildan ini hanya pengalihan isu atas kasus-kasus wanprestasi yang dialami pemimpin negeri ini. Sungguh sangat tak adil bila Wildan ditumbalkan dan dijadikan komoditi spekulan kepentingan.

Dalam proses penyidikan hingga pengadilan Wildan ini nanti, saya ijin usul-usil, seandainya -– seandainya lho ya -- Pak Menpora mau menjadi pembela. Ya, Pak Menpora kita yang bergelar 'pakar' telematika Indonesia mungkin bisa memberi dukungan litigasi, seapes-apesnya menjenguk Wildan selama pemeriksaan.

Karena selain memahami protokol komputasi beserta piranti perundangannya, bukankah potensi 'keterampilan' Wildan yang berusia muda menjadi domain ahlinya Menpora??

Kalaupun sulit memberi dukungan di pengadilan -– misalnya dengan jadi saksi ahli yang meringankan tuntutan -- saya tetap berharap Pak Menpora bisa menyediakan tim konsultan pembela yang paham protokol TIK, baik dari aspek praksis maupun yuridis. Sehingga Wildan bisa mendapatkan pendampingan yang sepadan saat diadili nanti.

Mungkin pengandaian saya terlalu memaksa. Namun setidaknya, dengan mengurusi Wildan, energi dan konsentrasi Menpora tidak habis tersita mengurusi sepakbola yang mbulet luar biasa akibat modus drama trias politica.

Saya rasa, menggali dan mengarahkan potensi anak-anak muda seperti Wildan ini lebih bergizi prestasi, daripada Pak Menpora pening melerai oknum manusia yang ngakunya sportif dan dewasa tapi suka gelut di lapangan bola dan terbiasa adu mulut di media.

Saya haqqul yaqin ada banyak Wildan-Wwildan lain yang punya potensi xtravaganza di bidang keamanan komputasi maya. Mereka bisa diprogram dan dibina Kemenpora sebagai aset bangsa yang memberi manfaat untuk masyarakat.

Usul usil saya agar Menpora mau menyediakan pembela, sekaligus sebagai antitesa alternatif atas inisiatif pembelaan 'rekan-rekan' Wildan yang destruktif.

Tambahan usul usil saya lagi, sampai pun nanti Wildan dibui, beri kesempatan Wildan menjalani hukuman di 'Lembaga Perkomputeran', meski secara yurisdiksi tetap berada dalam pengawasan Lembaga Pemasyarakatan.

Saya anggap itu sebagai hak prerogatif 'grasi kortingan' dari Presiden SBY, Bapak kita semua, hactivist muda Indonesia.

Teknisnya, Wildan dapat dijamaahkan pada komunitas hacker yang benar, misalnya komunitas pengembang piranti lunak lokal atau para teknopreneur creative digital yang butuh dukungan kebijakan plus relawan sumber daya keahlian.

Bersambung...

*) Penulis, Gus Adhim merupakan seorang santri peminat fotografi, penggiat F/OSS dan teknologi informasi. Saat ini, penulis tinggal dan bekerja di Pondok Pesantren Sumber Pendidikan Mental Agama Allah (SPMAA) Lamongan.
Sebagaimana dipublikasikan melalui detikiNet

Tinggalkan komentar dan ikutan mejeng di Recent Comments.
- Komentar dimoderasi untuk mencegah komentar spam dan double post. Jadi komentar tidak akan langsung muncul.
- Daftarkan nama di profil blogger agar tidak tampil Unknown.
- Jangan pernah menuliskan no. HP maupun e-mail, komentar akan dihapus/tidak di publikasikan demi keamanan anda sendiri.
- Lihat halaman kontak untuk berkomunikasi secara intens dengan penulis artikel.
Kamus EmoticonSembunyikan