2012/06/13

Antara Blog, Cinta, dan Kerja - Blog, Passion, Job.

Antara Blog, Cinta, dan Kerja - Blog, Passion, Job. - Review singkat kehidupan pribadi seorang Blogger. Pandangan tentang internet mulai blogging hingga social network, pekerjaan, dan kisah cinta.
Saya = Geek = Internet Lover< Dunia maya, hampir seperti nyawa bagi saya. Bagamana tidak? Paling tidak sekitar separuh dari 24 jam dalam sehari saya habiskan di depan komputer, laptop, untuk meng-akses internet. Bukan hanya sekedar di depan PC atau Laptop, di waktu saya berjauhan dengan itu, saya selalu mencoba untuk bisa terhubung dengan dunia maya. Hape jadul saya yang merek Nokia seri 3110c saya tweak habis-habisan supaya tetap bisa terhubung dengan internet... Saya benamkan browser yang berbasis Java J2ME yang terkenal semacam Opera mini walau cuma versi 4.4 (ini versi maksimal yg bisa di install di hape saya), juga Bolt Browser, UCWEB Browser, TeaShark Browser, JIG Browser.

Saya dan Blog

Hal yang menarik bagi saya bukan hanya melulu tentang situs-situs Social Network semacam Facebook, Twitter, Plurk, dan lain-lainnya yang muncul belakangan. Walaupun saya tidak menampik bahwa saya juga addicted dengan hal-hal semacam itu (social network yang pertama saya gunakan adalah Friendster, yang sekarang sudah tenggelam di makan zaman).

Hal itu adalah Blogging. Bagi saya blogging adalah makanan sehari-hari yang tidak boleh dilupakan selain merokok. Ada begitu banyak layanan blog gratis yang begitu menggoda untuk saya coba mulai dari Wordpress yang templtenya begitu cantik, Blogspot dengan kemudahan pemakaiannya, Multiply yang classic hingga microblog semacam Identi.ca, saya coba satu-satu. Beberapa di antaranya saya urus dengan serius (salah satunya adalah blog ini), sedangkan yang lain saya biarkan terbengkalai dan tak terurus pada akhirnya.

Ada begitu banyak ujicoba-ujicoba setting yang saya coba terapkan di blog-blog yang saya punya (jika dihitung mungkin lebih dari 20 blog dari berbagai penyedia layanan), mempertautkan akun-akun saya menjadi satu, mendaftarkannya di berbagai layanan Google, men-tweaknya dengan SEO, menambahkan script-script mulai dari Javascript, PHP, hingga Ajax (yang ini saya masih Newbie dan kagok). Mengkonfigursasinya dengan CSS styling dan lain-lain yang kemudian capek sendiri karena nantinya menjadi amburadul jika tidak porak-poranda (hahahahaha..) Mungkin ada beberapa yang berhasil, tapi tidak sedikit yang akhirnya mangkrak dan tergeletak dengan kondisi yang mengenaskan. Tapi saya suka!! Saya tidak bisa lepas dari itu!! dari seluruh kemampuan yang saya punya, hanya kemampuan ini yang benar-benar saya cintai.

Tahu kan apa artinya mencintai? Ya, seperti itulah, menuliskan apa yang saya tahu, dan apa yang saya ingin tulis, dan apa yang belum begitu saya kuasai sepenuhnya pun saya tuliskan. Tanpa ada harapan bahwa nantinya kegiatan dan keahlian saya yang satu ini akan mendapatkan reward, atau pada akhirnya menjadi sumber kehidupan saya. Saya tetap bekerja di dunia nyata, mengais rejeki di dunia nyata, tenggelam di rumitnya pekerjaan yang memeras otak, berhadapan dengan berbagai watak, cara pandang, berpendapat, atau cara dia menghargai 'sesuatu'. Hidup tetaplah di dunia nyata, bukan di dunia maya. Saya sadar betul soal ini.

Saya dan Pekerjaan

Agak susah saya menjelaskan bagaimana pekerjaan saya sebenarnya. Mungkin karena sifat saya yang mudah bosan dengan segala sesuatu yang stagnan alias "mandeg jegreg ora ngalor ora ngidul" dan mudah bosan dengan pekerjaan yang berbau rutinitas. Saya manjadi seorang kutu loncat paling sukses diantara teman-teman saya. Berpindah dari satu jenis pekerjaan ke pekerjaan lain, dari satu perusahan satu ke perusahaan yang lain. Se-bonafide apapun perusahaan itu, semahal apapun gaji yang saya terima menjadi tidak berguna ketika saya sudah mulai bosan. Apalagi jika ditambah rasa tidak nyaman.

Dan kini saya terdampar di kenyataan. Bahwa tidak semudah itu mendapatkan rasa nyaman dalam suatu pekerjaan, yang berbanding lurus dengan susahnya untuk terus berada di jalur "komitmen".

Di waktu akhir-akhir ini saya mencoba untuk ber-komitmen. Memegang sebuah perusahaan yang baru saja merangkak. Tingkat kelangsungan usahanya yang menjanjikan, tetapi begitu banyak halangan untuk bisa kesana. Banyak hal yang dulu saya konsepkan, saya rancang, saya ukur, dan entah bahasa apalagi, namun kemudian melenceng. Tapi tidak berhenti sampai di situ (saya rasa), akan ada banyak sekali kendala-kendala yang kemungkinan akan menjerembabkan saya dalam "ke-putus-asa-an". Mulai dari proyek-proyek yang tidak berjalan karena keterbatasan akses untuk menuju kesana hingga modal yang dijanjikan akan ada secepatnya jika saya membutuhkannya, namun ternyata "jauh panggang dari api".

Dan dalam waktu belakangan ini saya merasa "kecewa", tapi belum sampai pada tahap BOSAN. Saya masih punya motivasi yang tinggi, saya masih punya ambisi, saya bahkan mulai ter-obsesi dengan pekerjaan saya. Kali ini saya begitu tertantang untuk bisa mengelolanya dengan benar. Keterbatasan pengetahuan tentang manajemen bukan jadi soal, toh saya masih punya otak yang bisa diajak berfikir "ngoyo".

Pekerjaan dan Blog

Ah.. ada gunanya juga saya menjadi internet-addict, menjadi blog-lover. Paling tidak saya bisa mengeluarkan unek-unek yang menumpuk di kepala saya agar tidak membusuk dan menjadi SAMPAH. Bertukar pendapat dengan kawan-kawan blogger saya meski kadang "belum" mendapatkan titik terang untuk mencapai kata "The Problem was Completely Solved". Tapi (lagi-lagi) setidaknya otak saya tidak menjadi sarang SAMPAH. Saya hargai jerih payah "komendan" saya yang begitu "memandang" saya, menata saya, juga kolega kerja saya yang begitu antusias dan respect dengan cara pandang dan berpikir saya. Saya begitu beruntung sebenarnya. Tapi itu belum cukup! Ini tidak berhasil dengan hanya otak saja yang bekerja. Saya butuh bukti konkrit (katakanlah suplai modal) yang mampu mengikat saya di sebuah tangga yang begoyang-goyang, atau saya akan lari sebelum jatuh.

Saya Oportunis? Mungkin saja iya. Oportunis itu beda tipis dengan seorang Realis. Hanya tingkat tanggung-jawabnya saja yang "agak" berbeda. Saya tidak mau tergelincir menjadi seorang oportunis, hanya karena keaadaan yang menghimpit saya kemudian saya lepaskan seluruh tanggung jawab saya dan lari. Saya (seperti saya tulis di depan) ingin tetap memegang "komitmen" yang saya ambil bersama kolega kerja saya. Tetapi, paling tidak harus ada sesuatu yang membuat saya bersemangat.

Bukan kata-kata motivasi. Bukan. Saya sudah "well behaved" kalau soal motivasi. Sudah banyak (sebenarnya tidak sebanyak yang kalian pikir) kawan-kawan saya yang termotivasi oleh perkataan saya, apalagi saya sendiri. Di antara mereka banyak yang sudah "setengah sukses" karena didukung dengan tingkat kemujuran yang bagus. Tinggal saya yang terjebak di kondisi yang mengenaskan secara "tingkat kemujuran".

Pekerjaan dan Cinta Juga Blogging

Kisah cinta saya berbanding terbalik dengan romantisme pekerjaan saya. Saya mungkin agak mengeluh soal kisah cinta saya. Tapi saya rasa masih dalam tahap yang wajar. Seorang internet addict dan cenderung "cracker" seperti saya, tidak menumpahkan emosi dengan melakukan perusakan-perusakan yang banyak dilakukan (cenderung menjadi tren) anak muda sekarang. Atau menumpahkan segala emosi (ctt: emosi tidak sama dengan amarah, bisa kesedihan, kekecewaan, dll) di jejaring-jejaring sosial. Saya bersyukur soal itu, saya masih bisa digolongkan "god boy" di dunia internet. Masih menjadi sosok yang baik.
Tetapi tidak begitu dengan kisah cinta saya. dalam kurun waktu 2 tahun hubungan cinta malah semakin memburuk.
Tapi ya itu tadi, saya ini ndak bisa merasakan nikmatnya "bercinta" ketika saya sedang kondisi yang bagus dalam hal pekerjaan. Gagal berumah-tangga ketika karier saya dalam proses menanjak cepat, bukanlah hal yang menarik untuk dibicarakan. Dalam waktu 2 tahun saja saya sudah di posisi setingkat Co-Supervisor dalam bidang kerja yang saya tidak mempunyai pengetahuan apa-apa tentang itu, dan saya memulai karier dari posisi paling bawah alias kelas kuli.

Tetapi tidak begitu dengan kisah cinta saya. dalam kurun waktu 2 tahun hubungan cinta malah semakin memburuk. Ada banyak alasan untuk membenarkan dan "me-maklum-kan" hal itu, mulai dari kurangnya waktu bersama karena padatnya pekerjaan, hingga ke-labil-an psikologis dari pasangan muda yang naif (saya berumur 23th dan terpaut 1th dengan istri saya ketika berumah tangga) dan masih dalam tahap pengembangan kepribadian.

Selama setahun kemudian saya tenggelam dalam dunia blogging, dan terseok-seok memenuhi "kebutuhan saya sendiri". Ya, hanya kebutuhan saya sendiri saja. Bekerja sebagai Teknisi paruh waktu dengan penghasilan tidak menentu. Sekali waktu mungkin hasil yang saya dapatkan begitu melimpah dengan denominasi kisaran 7 digit, di lain waktu harus puas dengan denominasi 4 baris angka nol di belakang angka satu :P.
Tetapi saya menemukan gairah percintaan saya kembali. Saya begitu menikmati, sampai akhirnya ada hal yang membuat mengharuskan saya mencari sebuah pekerjaan tetap. Ini awal malapetaka, kembali di dunia rutinitas itu berarti kembali mengesampingkan romantisme cinta saya. Dan lagi-lagi saya terjerembab, kali ini bukan ego saya yang patut dipersalahkan, tapi karena anggapan bahwa "hasil yang kamu dapatkan tidak akan mampu memberi anak saya makan". Umpatan tidak berguna, jadi saya relakan saja. Kok mudah sekali menyerah? Kata siapa selama kurang lebih 3 bulan saya berusaha meyakinkan. Tapi apa daya, buktinya tidak ada kawan... Akhirnya saya menyerah dan kembali tenggelam dalam rutinitas pekerjaan kembali.